Septiyandi

وَٱجۡعَلۡنِى مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan (Asy Syu'araa' : 85)

Kesamaan Dalih Para Penentang Dakwah Para Rasul

(Oleh: Ustadz Abu Ismâ’îl Muslim al-Atsari)

Allâh Ta’âla mengutus para rasul-Nya dengan tugas yang sama, menyeru manusia agar beribadah kepada Allâh Ta’âla semata dan menjauhi thâghût.

Allâh Ta’âla berfirman:

(Qs an-Nahl/16:36)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul
pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
“Sembahlah Allâh (saja), dan jauhilah thâghût”,
maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allâh Ta’âla
dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
Maka, berjalanlah kamu di muka bumi
dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

(Qs an-Nahl/16:36)

Dakwah para rasul ini merupakan seruan menuju hikmah diciptakannya manusia di dunia ini, sebagaimana firman-Nya:

(Qs adz-Dzâriyât/51:56)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.

(Qs adz-Dzâriyât/51:56)

Maksudnya, Allâh Ta’âla menciptakan mereka (jin dan manusia) untuk beribadah kepada-Nya semata dan menjauhi peribadahan kepada selain-Nya.

SEMUA UMAT MENENTANG DENGAN ALASAN YANG SAMA

Semua umat menentang dakwah para rasul yang mulia dengan hujjah (argumen) yang sama, yaitu mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka. Dahulu, orang-orang jahiliyah di Mekah –di zaman Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam– melakukan perbuatan syirik dengan tanpa bukti, tanpa petunjuk, dan tanpa argumen yang nyata, maka Allâh Ta’âla berfirman mengingkari mereka:[1]

(Qs az-Zukhruf/43:21-22)

Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum al-Qur‘ân,
lalu mereka berpegang dengan kitab itu?
Bahkan mereka berkata:
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama,
dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk
dengan (mengikuti) jejak mereka.”

(Qs az-Zukhruf/43:21-22)

Inilah alasan perbuatan syirik mereka, yaitu mengikuti jejak nenek moyang. Oleh karena itu, Allâh Ta’âla menjelaskan bahwa alasan mereka itu juga merupakan alasan semua orang kafir pada zaman dahulu:

(Qs az-Zukhruf/43:23)

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu
seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri,
melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama
dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.”

(Qs az-Zukhruf/43:23)

ARGUMEN KAUM NUH ‘ALAIHISSALAM

Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah rasul pertama kali yang diutus Allâh Ta’âla di muka bumi. Kaum beliau adalah orang-orang musyrik pertama kali di dunia ini. Beliau menyeru umat beliau untuk mengesakan ibadah hanya bagi Allâh Ta’âla semata, sebagaimana firman-Nya:

(Qs al-Mukminûn/23:23)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh ‘alaihissalam kepada kaumnya,
lalu ia berkata:
“Hai kaumku, sembahlah Allâh,
(karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.
Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”

(Qs al-Mukminûn/23:23)

Namun kaumnya mengingkari kerasulan beliau, dengan alasan bahwa mereka tidak pernah mendengar seruan Nabi Nûh ‘alaihissalam itu pada masa nenek moyang mereka.

Allâh Ta’âla berfirman memberitakan hal ini:

(Qs al-Mukminûn/23:24)

Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab:
“Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu,
yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu.
Dan kalau Allâh menghendaki,
tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat.
Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini
pada masa nenek moyang kami yang dahulu”.

(Qs al-Mukminûn/23:24)

ARGUMEN SUKU ‘AD, KAUM NABI HUD ‘ALAIHISSALAM

Setelah kehancuran kaum Nabi Nûh ‘alaihissalam, manusia menjadi banyak kembali. Muncul kemusyrikan pada suku ‘Ad, maka Allâh Ta’âla mengutus Nabi Hûd ‘alaihissalam:

(Qs al-A’râf/7:65)

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hûd.
Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allâh,
sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya.
Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”

(Qs al-A’râf/7:65)

Kemudian lihatlah bantahan suku ‘Ad ini kepada Nabinya, mereka berargumen membela perbuatan syirik mereka dengan kebiasaan nenek moyang mereka!

(Qs al-A’râf/7:70)

Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami,
agar kami hanya menyembah Allâh saja dan
meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?
Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami
jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”

(Qs al-A’râf/7:70)

Iklan

Laman: 1 2 3

Filed under: Tauhid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Radio-radio Sunnah Kajian Audio Kajian Video

Arsip

RSS konsultasisyariah.com

  • Agar Mudah Shalat Subuh Berjamaah
    Shubuh Berjamaah Bagaimana caranya agar solat subuh terasa ringan? Karna tak jarang saya tidak mendengar azan padahal jarak masjid tidak terlalu jauh dengan rumah saya Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bagi sebagian orang, shalat subuh berjamaah di masjid adalah hal ringan. Bahkan dia merasa hidupnya ada yang kurang, ketika d […]
  • Qanaah dalam Beragama
    Qanaah dalam Beragama Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Qanaah adalah merasa cukup dengan apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita. Dan orang yang qana’ah hidupnya akan tenang, karena dia tidak bernafsu untuk mendapatkan apa yang tidak dia miliki. Seperti yang kita pahami, pemberian Allah yang merupakan nikmat Allah kepada para […]
  • Apa itu Ibadah?
    Pengertian Ibadah Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kata ibadah adalah bentuk dasar (isim masdar) dari kata ‘abada – ya’budu [عَبَدَ – يَعْبُدُ], yang secara bahasa artinya merendahkan diri dan ketundukan (al-khudhu’ wa tadzallul). Jalan yang sering dilewati, diungkapkan orang arab dengan istilah thariq muabbad [طَرِيقٌ مُعَبَّدٌ] y […]
  • Polemik Seputar Hukum Kencing Kucing Najis – Ustadz Firanda Hafidzahullah
    Kencing Kucing Najis? Ditulis oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, MA hafidzahullah Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Sebagian orang dikagetkan dengan pendapat seorang Ustadz bahwa kencing kucing tidaklah najis. Bahkan sebagian orang langsung menjadikan pendapat tersebut sebagai bahan ejekan untuk menjatuhkan sang Ustadz. Namun ternyat […]
  • Shalat Nyandar ke Tembok, Shalatnya Batal?
    Hukum Shalat Nyandar ke Tembok Tadz, apa hukum shalat sambil bersandar di tembok? Matur suwun Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Berdiri ketika shalat wajib termasuk rukun shalat. Allah berfirman, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ Jagalah shalat 5 waktu dan terutama shalat asar, […]
  • Tidak Ada Ganti Rugi untuk Barang yang Sudah Diperbaiki
    Tidak Ada Ganti Rugi untuk Barang yang Sudah Diperbaiki Jika si A menjual motor ke si B. Setelah sampai rumah si B, motor itu bermasalah, misal bagian lampunya atau dinamo starter yg sedikit rusak.. sehingga dipastikan, cacat itu dari si A.. setelah si B memperbaikinya, bisa nyala dengan baik. Tapi si B tetap minta ganti […]
  • Kencing Kucing Najis ?
    Hukum Air Kencing dan Kotoran Kucing Banyak kucing ditempat kami, biasanya kucing sering ke masjid, apakah kencing kucing najis? Terima kasih sebelumnya Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Disebutkan dalam hadis bahwa ada seorang budak wanita yang mengantarkan makanan untuk Aisyah radhiallahu ‘anha, tapi ketika itu beliau sedan […]
  • Hukum Hadiah untuk Konsumen
    Hadiah untuk Konsumen Perusahaan kami hendak membeli keju 8 karton/bln dari toko x. Harga keju 850 rb/karton. Kami melakukan kesepakatan untuk membeli selama 36 bulan. Kemudian pihak toko memberikan reward di awal periode kontrak dlm bentuk motor senilai 36 jt. Bagaimana status reward ini? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Sa […]
  • Siapakah Malaikat Jibril? (bagian 01)
    Mengenal Malaikat Jibril Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Kita akan mengenal malaikat yang paling mulia, Jibril ‘alaihis salam… Jibril dalam bahasa lain disebut Jibrail [جبرائيل]. Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa ini merupakan bahasa Ibrani, susunan dari dua kata: Jibr [جبر] yang artinya hamba, dan kata iil [إيل] yang merupak […]
konsultasisyariah.com

Kajian.Net

yufid.com

yufid.tv

Radio Hang 106 FM

Radio Muslim

Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Az-Zumar: 53)

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka akan difahamkan dalam urusan agama."
(Al-Bukhari dalam Al-Ilm [71]; Muslim dalam Az-Zakah [1037])

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ
"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan".
(Hud: 15, 16)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمْ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata".
(Al-Ahzab: 36)

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Ali 'Imran: 31)

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ
"Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya".
(HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah)

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ.
"Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga"
(Shahîh. HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath [no. 2374] dari Sahabat Abu Darda Radhiyallahu 'anhu)

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقّرِبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُتَاعِدُ عَنِ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
"Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian."
(HR. Thabrani)

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”
(HR. Bukhari no. 6306)

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
(At Taubah: 100)

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ.
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).”
(HR. Al Hakim dan beliau menshahihkannya, Adz Dzahabi pun menyetujui hal itu (1/545). Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib (1/273, no. 654))

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.”
(HR. Bukhari bersama Fathul Bari (11/101, no. 6307) dan Muslm (4/2075, no. 2702))

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain, pen), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).”
(HR. Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 54, Ibnu Majah no. 925. Syaikh ‘Abdul Qodir dan Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan dalam tahqiq Zaadul Ma’ad 2/375.)

عَنْ خَوْلَةَ الأَنْصَارِيَّةِ – رضى الله عنها – قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِى مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari Khaulah Al Anshariyyah, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada banyak orang yang membelanjakan harta yang Allah titipkan kepada mereka tidak dengan cara yang benar maka api neraka untuk mereka pada hari Kiamat nanti.”
(HR Bukhari no 2950)

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ يُصَيبُ بِهِ مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Yunus: 107)

وَٱجۡعَلۡنِى مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ
dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan
(Asy Syu'araa' : 85)

لا تستبطئوا الرزق ، فإنه لن يموت العبد حتى يبلغه آخر رزق هو له، فأجملوا في الطلب: أخذ الحلال، وترك الحرام
Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu terlambat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya, maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.
(HR. Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan al-Hakim, serta dishahihkan oleh al-Albani).

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
(QS. Ash Shaffaat: 100)

%d blogger menyukai ini: